Coffee – talk! Nikmatnya kopi Sumatra Mandheling….

Beberapa seduhan kopi sudah disajikan oleh sang barista cantik itu kepada kami, di sebuah sudut kafe kecil di kota Brisbane bernama “Small Talk”. Mungkin sudah beribu seruputan dan gelak canda mewarnai kedai kopi itu terutama saat akhir minggu. Terimakasih kepada seorang sahabat yang mengajak kami mampir ke sana. Pembicaraan kami pun dimulai dengat hangatnya suasana kafe yang juga akrab dengan anak anak kecil itu. Layak sekali disebut “small talk” karena di bangku-bangku kayu dalam kafe itu kami merasa senang dan nyaman mengobrol sambil ngopi tentunya. Satu hal yang membuat kami kagum adalah karena hanya sedikit varietas kopi yang disediakan di sana yaitu kopi blend spesial kafe tersebut dan salah satu kopi unggulan Indonesia yaitu Arabika Sumatra Mandheling, medium roasted.

Pemilik kafe yang keturunan Filipina ini bertutur bahwa kopi Sumatra memang favorit di sini karena cita rasanya (flavour) yang outstanding. Manggut manggutlah kami sambil kembali menyeruput kopi espresso Sumatra Mandheling dan berbincang ringan. Hal ini mengingatkan kembali saat kami berkunjung ke sebuah roaster yang cukup terkenal sebagai pionir di Brisbane dan Australia. Saat itu sang pemilik mengungkapkan kualitas kopi Indonesia yang diakuinya sering digunakan dalam blend (sebagai campuran) dengan kopi kopi lainnya untuk mengangkat cita rasa produk. Ya…seyogyanyalah kita sedikit berbangga hati karena kopi Indonesia memang dikenal baik di dunia Internasional. Kamipun lalu menuntaskan seruputan terakhir kopi yang sungguh sungguh nikmat ini. Tak tersisa!

smalltalk_uripkopi
Secangkir espresso kopi Sumatra Mandheling habis tak tersisa dalam sekejap.

Perkenalan Pertama

Sebagai penikmat kopi, pada awalnya saya tidak sebegitu jauh tertarik dengan komoditas ini. Boleh dikata saya hampir tidak menyukainya. Dengan satu alasan, pahit. Rasa pahitnya berbeda dengan pahitnya coklat, favorit saya, yang lebih ramah. Dulu waktu kecil tiap hari saya minum susu coklat yang coklat bubuknya terasa banget coklatnya. Mereknya Van Houten atau Windmill. Bagi saya waktu itu, susu coklat adalah minuman yang paling enak sedunia. Terlebih lagi karena yang membuatkan adalah Mama. Beliau rajin banget nyiapin minuman di pagi hari. Saya dapet susu coklat, papa saya kopi atau teh.

Kembali ke pahitnya kopi. Dulu saya jarang minum kopi. Kini sehari bisa 2 kali minum kopi. Ukuran yang lumayanlah buat peminum kopi tingkat pemula seperti saya. Perkenalan pertama saya lebih jauh terhadap kopi dimulai dari sosok istri saya nih yang tidak kami bayangkan sebelumnya ceritanya. Istri saya, Wenny, adalah  staf pengajar ilmu pangan di salah satu univeritas di Malang, Jatim, Indonesia, yang kebetulan saat ini sedang studi lanjut S3 dengan tema penelitiannya yaitu tentang….KOPI. Saya jadi tertarik tentang kopi dan seluk beluknya karena seringnya istri saya cerita tentang proses penelitiannya tentang kopi, mulai dari jenis-jenis kopi dari seluruh dunia -dan kopi Indonesia salah satunya-, variasi teknik brewing kopi, hingga karakter rasa dan aroma kopi yang beragam. Belum lagi ternyata sejarah dan budaya di balik kopi yang luar biasa. Semua itu sejauh ini membuat saya jatuh cinta kepada kopi…dan istri saya pastinya ;>

Wenny beraksi di salah satu kebun kopi di Cairns, Australia.

Salah satu alasan lagi saya cinta kopi, adalah fakta bahwa negara saya, Indonesia, adalah empat besar penghasil kopi terbesar di dunia. Kenyataannya, di sini saya jumpai berbagai coffeeshops menjual Sumatran coffee, Gayo Aceh coffee, ataupun Toraja Sulawesi coffee. Ini membuat saya bersyukur bahwa negara saya adalah tempat yang subur untuk ditanami kopi sehingga menghasilkan jenis kopi yang bisa mendunia.

Saya hanyalah penikmat kopi, dan melalui blog ini saya hanya ingin berbagi dan bertukar informasi dengan teman-teman tentang kopi ataupun jenis komoditi lain seperti coklat (kakao) dan teh.